Tulisan kedua masih sama dengan masalah tulisan pertama, judul. Ngapain? judul kok nanya, ya gimana pada hakikatnya pertanyaan adalah 99% isi kepala manusia bukan? yang 1% jangan ditanya lagi apa? nah kan tanya lagi. Judul ini sepertinya akan merepresentasikan setahun kedepan atau mungkin bahkan sampai kapan tidak tahu vaksin covid berhasil “diimplementasikan” ke dalam tubuh manusia. Sebenarnya apasih yang ada dipikiran orang yang tidak percaya covid itu ada? takon meneh hasssh!

Setahun lebih pandemi berlangsung dan masih belum bisa ya mengubah aktivitas yang sudah bertahun-tahun sebelumnya dilakukan, misalnya bangun pagi, olahraga dll. Memang meninggalkan kebiasaan itu susah! yang gampang itu pura-pura tegar padahal asline ambyar.

2021? ngapain?

Tidak banyak yang perlu direncanakan, nanti nyesel. Pernah dengar “Manusia hanya bisa berencana, selanjutnya EO yang mengerjakan”? itu kurang, “Tapi Tuhan yang menentukan”. Kita itu sejatinya tidak punya hak untuk merencanakan, 100% hanya bertanya dan Tuhan 100% adalah jawaban. Kita tidak merencanakan tapi bertanya boleh tidak ke Tuhan. Jadi ya ngapain? Kamu jangan bingung baca tulisan ngajelas ini aku aja bingung omong  nulis apaan ini dah! Tidak-tidak saya tidak bilang merencanakan itu salah ya, itu bagus. Bagi yang sudah biasa merencanakan segala sesuatu secara teratur lanjutkan, tidak ada salahnya. Saya? sudah terlalu banyak memakan ekspetasi haha, jadi ya tetap gini dulu aja seperti kalimat penutup tulisan sebelum ini, melanjutkan hidup. Seperti twit Mas Puthut EA beberapa waktu lalu yang tak rituit ping telungatus patlikur.

Jika dipikir zona nyaman itu opo seh? sebuah kebiasaan berulang yang itu-itu saja bukan? makanya zona nyaman itu jangan ditinggalkan, tapi dirawat biar tambah nyaman. Sesekali memang bisa saja bosan itu wajar, ha rumangsamu koen iku lapo cok ket cilik gur nang Ngaglik ae, kapan berkembang? untuk merubah zona nyaman tidak segampang itu. Merawatnya akan berjalan lebih mudah tidak akan menambah gawean urip yang semakin lama berat ini dibandingkan dengan keluar dan pindah ke zona baru. Udah susah jangan nambahin diri sendiri susah lah!

Aku percaya zona nyaman itu dapat benar-benar berubah misalnya ketika merantau, sudah tidak tinggal lagi bersama orang tua, tuntutan pekerjaan dan apalagi ya.. mikirnya baru mentok ke 3 hal tsb, itupun konteksnya karena paksaan. Pandemi ini ku rasa tidak cukup bisa memaksa. Ini cuma pendapatku dan apa yang aku rasakan sekarang saja sih.

Jadi ya ditahun ini masih aja lah dizona nyaman dan tetap merawatnya. Sekali lagi semoga akan lebih mudah dalam hal apapun, merawat zona nyaman ini bukan berarti melakukan hal-hal seperti sebelumnya teross loh ya, contoh sederhananya gini, pernah sambat hidup cuma gini-gini aja? toh gitu masih aja dijalani dan merasa terjebak zona nyaman, mau merubah tapi sulit. Padahal jika dipikir sebenarnya ya kegiatan yg dilakukan pasti nga gitu-gitu amat, minimal juga ada keluar hangout, sharing sama teman (eh selama covid tetap jaga protokol), nah seperti itu sudah minimal merubah sedikit pola kok dan bisa dibilang itu suatu obat untuk mengurangi bosan untuk melupakan sejenak zona nyaman yg kemudian akan kembali diteruskan kembali esok hari. Tidak usah sok-sokan kuat, akui dan jalani saja, pandemi memang banyak membatasi kita untuk berbuat banyak. Bersosial itu hak dari dirimu! jangan halangi dirimu untuk lari dari “sosial” apapun itu bentuknya.

Hidup itu tidak statis, setiap hari dinamis. Merencanakan kemudian tidak bisa melakukan buat apa? tidak usah memaksakan dirimu untuk keluar dari “zona” saat ini juga! Jangan sampai kamu kehilangan kepekaan terhadap sekitarmu disaat kamu sibuk memberi makan egomu dengan sibuk merencakan dan menjalankan rencanamu.

Jawaban dari judul bisa kamu jawab sendiri. Tapi ngapain untukku yang aku jalani sekarang lebih banyak membayangkan dan mengingat kembali banyak kesalahan dan kegembiraan, kita tidak dapat mengulang waktu tetapi kenangan dapat diulang dengan diceritakan kembali. Nyenengke cok wkw. Sederhana saja. Tidak terlalu banyak rencana karena tidak punya banyak waktu untuk merencanakan apalagi menjalankan rencana, sudah terbiasa dengan flow yang tidak terencana mungkin itu zona nyamanku dengan menikmati proses yang terus aku rawat dengan setengah dan sepenuh hati karena sudah lelah dengan ekspetasi. Sisi lain dari hidup dengan banyak ekspetasi itu mengajarkan untuk menerima dan lebih banyak bersyukur. Karena endingnya walaupun tidak sesuai harapan pasti ya Alhamdulillah. Semua punya resiko masing-masing dan itu wajar untuk ditakuti dan pasti sebisa mungkin mencoba untuk menghindari resiko, tetapi semua cara yang disusun untuk menghindari resiko juga dengan kemungkinan bukan? tidak pasti lagi kan? ya seperti aku yang suatu saat pasti tidak akan konsisten dengan apa yang pernah aku tulis disini, seperti kalimat pertama pada paragraf sebelum ini. Dalam mengisi kedinamisan itu boleh saja merencanakan merupakan sesuatu yang perlu atau untuk merawat zona nyaman itu sendiri. Rencana merupakan tantangan, keberhasilan artinya dapat menghadapi tantangan. Meskipun sering tidak berhasil dalam merencakan sesuatu hal jangan tidak pernah lagi untuk merencanakan, tentu saja kuncinya adalah usaha dan diiringi doa, karena rencana merupakan pertanyaan yang harus dicari jawabannya kepada sang pencipta dan proses pembuktiaannya adalah dilakukan dengan usaha.

Berjalan tak seperti rencana adalah jalan yang sudah biasa. Jalan satu-satunya, jalani sebaik kau bisa – FSTVLST

Sudahlah daripada semakin nglantur. Jangan terpengaruh dengan semua tulisanku ini ya lur, tetap pada “zona” yang kamu yakini lur! Salam.